Air Mata Sang Singa Padang Pasir

singa-1024x819

Kala itu, hari mulai beranjak siang. Seperti biasa, terik matahari membuat kering dan gersang. Dari kejauhan di sepetak taman, nampak daun-daun kering, berserakan dibawah pohon-pohon khas padang pasir yang tak begitu banyak, namun menawan. Ditambah lagi dengan udara yang terasa kering, bertiup dan membelai tiap jengkal dari tubuh kota nan indah dan dermawan. Warna coklat tanah liatnya yang khas, sama sekali tidak mengurangi keserasiannya dengan aliran sungai yang membujur di antara jalan-jalan taman yang tersusun rapi dari bebatuan. Menenangkan dan mendamaikan, dua kata itulah yang sangat pas untuk mewakili suasana kota kala itu.

Sampai suatu ketika, sebuah suara seruan dengan lantang mendekat dari kejauhan. Memanggil setiap insan untuk mencukupkan apa yang ia kerjakan. Lalu digantikan dengan kerumunan orang yang bergegas menuju satu tempat. Tempat yang tidak begitu indah jika dipandang dari luar. Hanya tampak dinding-dinding bujur sangkar berwarna coklat tanah liat dan di depannya dihiasi dengan lima batang pohon kurma. Di dalamnya hanya ada satu ruangan yang cukup lebar dan ada bagian yang sedikit kedepan. Nampak juga karpet-karpet hijau membentang di seluruh ruangan, dan di tembok bagian atas juga dilengkapi dengan alat semacam pendingin ruangan.

Tidak sampai sepuluh menit, ruangan yang semula kosong, tiba-tiba penuh sesak. Beberapa diantara mereka lalu lalang tak karuan, ada juga yang sedang khusyuk berdoa, dan ada juga yang sedang berbicara dengan teman sebayanya. Tidak lama setelah itu, seorang laki-laki berbadan tinggi besar, terlihat gagah dengan pakaian qamis yang ia kenakan, maju mendekati microphone dan berseru dengan lantang, “hayya’alassholaah!” tanda sholat akan segera dimulai. Dengan satu kata dari imam, “luruskan” maka luruslah barisan mereka semua. Seperti barisan para pasukan yang siap menghantam serangan lawan. “Allahu Akbar”, seketika itu ruangan menjadi sangat hening, khusyuk, seolah sedang berada di dalam alam lain.

Tak disangka dan tak dikira, bersama dengan terdengarnya ucapan “bismillahirrahmanirrahim” sang imam, dentuman keras terdengar dari arah luar. Berkali-kali, berulang-ulang. Disusul dengan rentetan suara mesin pelontar timah panas dari badan pesawat terbang. Lalu terdengar suara runtuhan-runtuhan tak karuan, disertai pekikan takbir seorang perempuan menambah lengkap kisah pilu siang hari itu.

Semua orang didalam masjid tersadar, lantas berlarian keluar. Mencari dan mencoba menyelamatkan istri dan anak-anak mereka. Suasana yang khuyuk menenangkan, berubah seketika menjadi kepulan debu, mengharu biru, banyak yang menangis dan meronta-ronta. Melihat saudara-saudara mereka yang kacau balau tubuhnya. Teriakan “Allahu Akbar” keluar dari setiap lisan, seraya menguatkan hati dan kaki untuk melangkah. Menyusuri puing-puing gedung yang terlihat mencuat besi-besi betonnya. Dan banyak dari mereka yang mencoba mengais-ngais runtuhan dinding rumah, sambil berharap seseorang yang sedang berteriak “tolong” dibaliknya, bisa diselamatkan dengan segera.

Di tengah perjalanan, terlihat seorang laki-laki paruh baya, berpakaian sweeter biru tua dengan celana hitam, lengkap dengan sepatu buntut dengan bagian belakang yang selalu diinjaknya. Tepat disamping tempat duduknya ada gundukan besar, nampak seperti reruntuhan bangunan. Sedikit demi sedikit ia pindahkan kerikil-kerikil, pun dengan bebatuan diatasnya. Semangat yang bersumber dari suara samar-samar dari dalam, terus menguatkan hatinya untuk selalu mengais-ngais bebatuan. “sabarlah nak! Engkau akan segera keluar, bapak sedang menyelamatkanmu!”. Perlahan-lahan, lama-kelamaan,  suara dibalik reruntuhan itu menghilang. Laki-laki paruh baya yang semula terlihat tegar, mendadak lemas, gemetar tangannya, menangis tak karuan.

Menangislah saudaraku!. Sekencang-kencangnya menangislah, agar dunia tahu bahwa ada ketidakadilan di tempatmu. Atau, kalau mereka tetap mentup telinga, Saudaraku, adukanlah pada Tuhanmu yang MahaAdil dan Bijaksana. Biar Allah yang menjalankan hukumnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s