Sudikah Kamu Berbagi Kemudi

dewaruci

Bismillah

Saya sadar betul bahwa tiap tulisan, dari siapapun itu, pasti akan memiliki resiko yang harus ditanggung penulisnya. Atau dengan kata lain, sang penulis harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang ada di dalam tulisannya. Maka, disini saya akan berbicara mengenai pendapat saya pribadi, murni dari apa yang saya alami dan apa yang saya rasakan. Saya berbicara seperti ini bukan berarti saya mewakili suara suatu golongan, atau bahkan angkatan. (Ya, hehehe, terkadang mereka memang bertingkah seperti dugaan saya diatas)

Assalamu’alaikum wr. wb. Bagaimana kabar kalian semua? Saya harap sehat-sehat saja. Yah, walaupun begitu banyak masalah yang menerpa hidup kita, yakinlah, bahwa nikmat yang telah diberikan Tuhanmu, tak terhitung jumlahnya (sempatkan mengucap hamdalah). Terkadang, kita sendiri merasa bahwa masalah yang datang, entah itu dari angkatan yg nggak diangkat-angkat, atau himpunan yang dibekukan, menjadi masalah terberat yang pernah kita lalui selama ini. Berbagai upaya pencarian solusi seperti: diskusi, rapat angkatan, sidang, dan lain-lain yang cukup menguras tenaga dan pikiran, membuat diri kita lalai akan hakikat kita hidup di dunia. Hehe, kalau masih ingat ya Alhamdulillah. Sebagai kalimat motivasi untuk kita semua, “karena sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan” – Qur’an Surah Al-Insyirah ayat ke 5. Dari kutipan ayat tersebut, janganlah kita beranggapan bahwa itu hanya berlaku bagi umat islam, cobalah dicermati bagaimana nilai-nilai yg terkandung di dalamnya. Pasti semua orang sepaham dengan maksud dari ayat itu, kalau kaya Ary Ginanjar mah namanya “anggukan universal”. Maka dari itu, pantaskah kita menyerah atas ujian dan cobaan yang menimpa diri kita, atau bahkan menimpa “rumah” kesayangan kita, kalau saya “menimpa ‘keluarga’ kita” hehehe. Saya rasa tidak!. Semangatlah kepada semua orang yang masih memperjuangkan kebenaran.

Himpunan, birokrasi, eiiitss… Bukan itu yang mau saya bahas yo. Saya mau berbagi kisah nih, Bak seorang kadet yang tinggal selangkah lagi lulus dari akademi pelayarannya, dan langkah terakhirnya adalah mengarungi samudra nan kian luasnya. Bersama dengan sorang kapten kapal dan krunya, dan beralaskan Dewaruchi sebagai kereta diatas samudra. Hmm… mantap cak! Hehehe

AufVJh9XNK4EoJ415FE0-_lnWXEPiqKSqirrBLFVbZaX

Alkisah, para kadet diasah kemampuan kemaritimannya diatas dek kapal. Berbagai cobaan dan rintangan yang mereka dapatkan dari pada senior dan kru kapal kerap kali membentuk mental mereka. Terutama ketika menghadapi badai di tengah samudra yang begitu luasnya. Kadang disuruh memanjat tiang kapal, kadang dimandikan oli mesin, kadang juga langsung dimandikan di laut. Dari situlah, awal mula kisah ini. Hari demi hari terlewati, bulan demi bulan terlampaui, berbagai negara tujuan pun sudah disinggahi, tanpa melupakan salah satu misi mereka yaitu memperkenalkan Indonesia di mata dunia. “kalau tidak ada halangan, insyaAllah Desember akhir kita akan sampai di tujuan utama kita” kurang lebih seperti itulah ucapan kapten kapal ketika berbicara di depan kadetnya. Tiga bulan pertama, dirasa keadaan masih aman saja dan kapal masih dalam kondisi ideal. Kalaupun ada masalah, pasti bisa diselesaikan dengan dua atau tiga hari. Di bulan keempat, naasnya, sebuah peristiwa kelam pun terjadi. Dewaruci dihadapkan pada badai yang tahunan yang kebetulan terjadi saat Dewaruci sedang menjalankan misinya. Tak tanggung-tanggung, badai berjuluk “perenggut kebebasan” itu pun sukses membuat kapal Dewaruchi oleng tak karuan, diam ditempat, terombang ambing ke kanan dan ke kiri, berjam-jam, berhari-hari, tanpa kenal ampun ia mencoba menyapu kapal dari sisi kanan-kiri, dan depan-belakang. Para kru kapal sangat sibuk dengan urusannya diatas dek kapal. Pun dengan kapten kapalnya, yang masih berusaha untuk mencari solusi atas badai yang menghentikan laju kapal. Adakah yang aneh?, dimanakah para kadetnya?, apa yang sedang mereka lakukan? Bukankah ini momen yang sangat pas untuk para kadet supaya mereka bisa belajar bagaimana mengendalikan kapal saat diterjang badai. Dan juga supaya mereka bisa belajar, bagaimana membuat keputusan yang bijak jika dihadapkan pada kondisi seperti ini. Bukan hanya sekadar sandiwara, tapi realita. Learning by doing is more important than just read the theory. Apalah yang bisa dilakukan para kadet pada saat itu, kecuali bergumam dan bertukar pikiran antar sesama kadet. Tanpa bisa belajar bagaiamana seharusnya mereka bersikap dengan bercermin kepada para kru dan kapten kapal yang diatas sana. Andai, kami para kadet diberi kesempatan untuk berbicara, kami akan berbicara, “sudikah kamu berbagi kemudi?”, kami pun berharap jawaban kalian, “ya, kami harap, kalian bisa belajar banyak mengenai hal ini.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s