Maba! Kamu Bisa Apa?

GERIGI ITS
Maba, sebuah kata yang sangat tidak asing didengar oleh kalangan mahasiswa di Indonesia. Berbagai sindiran sengaja dibuat untuk lucu-lucuan, contohnya saja Maba (Mainan Baru), hahaha… Apalah maksudnya. Mungkin saat ini begitu banyak perpelocoan yang terjadi di kalangan mahasiswa baru. Eits… jangan begitu, ingat katanya Ivan Ahda, direktur eksekutif Forum Indonesia Muda. Zaman ini lebih cocok disebut sebagai zaman “permukaan”. Kenapa? Karena kebanyakan orangnya hanya menilai sesuatu dari permukaannya saja, terlalu cepat menjustifikasi, mudah menyalahkan orang, menyalahkan sistem, apalagi sistem kaderisasi… hahaha (kode keras). Janganlah jadi orang “permukaan” teman-teman. Sebelum menilai sesuatu, alangkah baiknya kita tabayyun dulu. Atau dalam istilah bahasa Indonesianya, mendalami atau meneliti sesuatu itu. Tahukah kamu, Rasulullah juga mengkader para sahabatnya. Saya tahu hal ini dari artikel yang berjudul Kaderisasi Ala Rasulullah. Artinya, kaderisasi bukan hanya di kalangan mahasiswa baru. Poin kebenarannya, kaderisasi ada di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Semangat kaderisasi, hehehe.

Mahasiswa baru juga identik dengan keterpakuannya dengan kondisi yang ada. Maklumlah, karena masih terbiasa dengan pola berpikirnya yang masih seperti adak SMA, termasuk saya. Tapi, apakah akan terus seperti ini?. Tentu saja tidak!. Semuanya harus berubah ke arah yang lebih baik. Saat kita dihadapkan pada suatu keadaan yang menurut kita tidak benar, hanya ada satu kata, LAWAN, itupun jika kita punya keberanian. Perlawanan yang dilakukan tidak selalu dengan menggunakan kekuatan fisik, atau kata-kata kotor yang menyakitkan hati. Tapi perlawanan yang dimaksud bisa berupa penyampaian gagasan-gagasan kebenaran yang berpedoman pada norma masyarakat, agama, dan bernegara. Apa salahnya mencoba menyampaikan gagasan, toh gagasan yang disampaikan juga benar menurut norma. Semuanya, akan kembali kepada hakikat yang sebenarnya jika cara penyampaian dilakukan dengan baik dan benar. Mungkin pada awalnya akan sulit menyakinkan seseorang tentang gagasan yang kita usung. Akan ada banyak pertenangan, cemoohan, dan konflik lainnya yang membuat diri kita akan merasa tidak nyaman dengan sikap mereka. Tapi, yang perlu diketahui, disinilah poin pentingnya. Saya jadi teringat dengan pernyataan seorang Muhammad Assad, “tidak ada perkembangan di zona nyaman, dan tidak ada kenyamanan di zona berkembang. Maka saya harus keluar dari zona nyaman untuk berkembang”. Saya kira kita semua bisa mengerti apa yang dimaksud Muhammad Assad pada kalimat diatas. Dari setiap pertentangan-pertentangan yang ada, sebaiknya kita menyikapinya dengan bijak. Tidak berhenti berusaha, karena yang kita sampaikan adalah kebenaran yang nyata. Sudah pasti Allah akan ada disamping kita untuk menemani dan menyemangati. Tidak pantas bagi kita berhenti menyampaikan kebenaran. Sekalipun kita seorang diri, setidaknya mereka tahu dipihak mana kita berdiri.
Saya rasa, seorang inisiator perubahan selalu memegang teguh nilai-nilai yang saya sampaikan sebelumnya. Mereka tidak peduli dengan resiko yang akan didapat, meskipun itu harus dilakukan seorang diri. Mereka hanya tahu, bahwa yang mereka sampaikan adalah benar, dan kebenaran harus disampaikan. Ingatkah kita dengan kalimat, untuk merubah suatu peradaban, maka diperlukan setidaknya 20% orang yang ada di zaman itu. Menurut saya tidak selalu seperti itu. Pada zaman Rasulullah, ada beberapa sahabat yang kemampuannya sebanding dengan 1000 orang kaum musyrikin. Bisa dibayangkan begitu pandainya mereka, luas wawasannya, dan kuat fisiknya. Realita di zaman sekarang, sulit ditemukan seorang muslimin yang sebanding dengan 1000 orang musyrikin. Jadi, menurut saya angka 20% adalah nominal yang ideal. Tapi dengan catatan, seseorang itu harus memiliki kapasitas dan kapabilitas yang lebih dari pada yang lain.
Akhirnya, sampailah kita di paragraph terakhir, hehehe. Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang mahasiswa baru, yang kebanyakan dari kita tidak nyaman dengan secuil bagian dari sistem yang ada. Apakah kita cukup diam? Atau lawan?. Setidaknya, lawanlah dengan mengutarakan gagasan yang solutif. Dengan begitu, semuanya akan tahu di pihak mana kita berdiri dan ingatlah, Allah akan menghitung setiap amalan yang dilakukan oleh hambanya.
Salam hangat saya,
maba
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s