Nenek Moyangku Seorang Pelaut (Katanya)

2898_2211_19-Juni-oke-bahaya-berenang

Bismillah…
Nenek moyangku seorang pelaut, Kata orang-orang sih begitu. Banyak bukti otentik yang berhasil menjelaskan bahwa nenek moyang kita benar-benar seorang pelaut sejati. Mulai dari perahu bercadik tunggal, ganda sampai asal muasal ditemukannya prinsip pemecah gelombang bernama bulbousbow yang katanya sudah dipakai sejak lama oleh nelayan Madura. Hmm, unik memang, bagaimana mungkin mereka bisa menemukan cikal bakal bulbousbow sedangkan mereka sendiri hanya mengandalkan intuisi semata, hahaha. “Kalian tahu, kapal-kapal nelayan Madura itu ada tonjolan di bagian depan lambungnya, dan itu sudah diterapkan sejak lama. Kalau kalian tanya ke mereka apa fungsinya, pasti mereka jawab ‘pemecah gelombang Pak’”, kata Prof. Soegiono.

Lalu yang patut ditanyakan, SEJAK KAPAN ESTAFET JIWA KEMARITIMAN INI HILANG DI MASYARAKAT INDONESIA?. Jadi begini teman-teman, ada yang bilang kalau dulu Indonesia pernah dijajah Belanda, hehehe (iya nggak sih?). Awal mulanya, perusahaan perdagangan bernama VOC datang ke nusantara dengan membawa sistemnya. Mereka sadar betul, maritim merupakan kunci penting suksesnya bisnis perdagangan mereka. Untuk memuluskan niatnya, munculah ide dengan mendoktrin orang-orang Indonesia dengan cerita mistis yang tak masuk akal tentang laut, cerita Ratu Pantai Selatan misalnya. Mereka berhasil mengubah mindset orang Indonesia yang semulanya cinta di bidang maritim, menjadi cinta di bidang agraris. Alhasil, tanpa adanya pesaing dari dalam negeri, mereka bisa menjadi perusahaan perdagangan multinasional terbesar dimasanya. Belum ada perserikatan dagang yang terbentuk waktu itu. Yaah, sampai sekarang deh mindset seperti itu bertahan di diri kita. Hmm, masih ndak percaya. Oke kita buktikan, Apa yang kebanyakan anak TK gambar pas di kelasnya? Pasti 99,99% Pegunungan dengan pemandangan sawah yang membentang luas dari pojok kiri buku gambar sampai keluar kertas gambar (wkwkwk, alaynya keluar… maap). Iya kan? IYA. Lainnya deh, kalau ada yang ngajak “Yok jalan-jalan!”, KEMANA? “Batu, Malang”… Yah, agrarisnya lagi muncul… kok ndak ke KENJERAN saja? Wkwkwk. Teman-teman, tanpa kita sadari, pembicaraan yang ramai di khalayak saat ini kalau ndak pertambangan dan perminyakan, atau ndak kedirgantaraan, jarang yang bicara tentang MARITIM. Buktinya simpel, jumlah peminat jurusan berbau teknologi kelautan dengan jumlah peminat jurusan berbau pertambangan dan perminyakan, jelas beda jauh. Alasannya, karena GAJI LULUSANNYA LEBIH BESAR. Memang suatu keniscayaan kalau perminyakan merupakan ladangnya uang. Tapi perlu disadari teman-teman, PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN TIDAK AKAN PUNYA NILAI JIKA TIDAK ADA KEMARITIMAN, iya kan?. Bagaimana mereka menjual minyaknya tanpa ada kapal-kapal yang berlayar, dan pelabuhan-pelabuhan dengan konstruksinya yang kokoh? Hal ini perlu direnungi teman-teman. Dunia ini, Indonesia ini, masih butuh jiwa-jiwa maritim yang niat membenahi sistem yang ada. Hanya baru-baru saja, maritim gencar dibicarakan ketika Pak Presiden ngomong masalah Tol Laut. Toh sayangnya, masih belum begitu mendetail karena bahasannya masih sebatas di Keluarga Mahasiswa Perguruan Tinggi (tunggu aksi kami :D)
Tahukah kalian teman-teman, negara-negara tanpa minyak pun, bisa jaya karena maritimnya. Pernah dengar kata MAERSK? EVERGREEN? SAMSUNG? DAEWOO?, Banyak negara yang mempercayakan logistik mereka diantar oleh MAERSK dan EVERGREEN, banyak negara yang mempercayakan pembuatan kapal mereka dilakukan oleh SAMSUNG dan DAEWOO. Ya, mereka adalah perusahaan-perusahaan maritim kaliber dunia. Mereka mempunyai sumbangsih besar kepada negaranya, ataupun negara-negara lainnya. Indonesia sekarang nih, jujur saja rek, PAL, DOK, bisa dikatakan perusahaan yang mati suri. Mereka masih terhalang oleh kebijakan-kebijakan pemerintahan yang menyulitkan mereka untuk memproduksi kapal dengan biaya yang murah. Selalu terbentur dengan kebijakan ekonomi dan politik-politik dunia. Contohnya, saat harga minyak yang menurun tajam, secara tidak langsung mempengaruhi dunia perkapalan di Indonesia. Karena semakin sedikitnya kapal yang beroperasi, semakin sedikit yang melakukan docking, dan semakin sepi pula galangan kapalnya (kalau ndak ngerti, sini masuk FTK… hehehe).
Oleh karena itu teman-teman, seharusnya kita mulai sadar diri. Maritim tidak bisa dinomor duakan. Maritim masih membutuhkan insinyur-insinyur kemaritiman. Buat teman-teman yang sudah sadar hatinya, kalian bisa ikut ambil andil dengan cara ketik REG (spasi) wkwkwk, serius… masuk FTK-ITS rek, atau Perkapalan UI, atau Perkapalan UnHas, atau Perkapalan UNDIP, dsb. Masalah kebijakan politik dan ekonomi yang menyulitkan, pasti bisa kita cari solusinya bersama. Yakinlah, Indonesia akan jadi Negara Maritim lagi. JALESVEVA JAYAMAHE!
Salam dari kota agraris,
Jombang, 19 Desember 2015
Muhammad Naufal Aziz
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s