KISAH KAPAL EMAS

kapal emasDiceritakan, ada sebuah negeri yang banyak orangnya, kaya raya pula, maklum karena kebanyakan mereka jadi penjual emas di negeri seberang. Seperti biasa, akhir pekan menjadi hari yang ramai, bukan karena muda mudinya yang asik bercengkerama, tetapi hari itu adalah hari dimana para kepala keluarga meninggalkan anak istrinya untuk menjualkan emasnya di negeri seberang. Sore itu, semuanya terlihat senang. Banyak diantara mereka yang membawa sekantong atau dua kantong emas di dalam ranselnya. Dari pesisir pantai, terlihat burung-burung camar seperti mengajak mereka untuk segera berangkat saja. Tampak juga berkas-berkas sinar matahari sore menyelinap diantara layar kapal satu dengan lainnya. Tidak lama setelah itu, terdengar sebuah peluit dari arah barat, disusul dengan turunnya sebuah kapal kayu yang sangat besar dari tempat peristirahatannya. Kapal yang konon sudah berusia 55 tahun, dengan setia mengantarkan masyarakat negeri itu untuk berdagang menyeberangi lautan. Dengan hati-hati, mereka mulai masuk ke dalam kapal dan memasukkan emas yang dibawa ke dalam loker-loker penyimpanan, dan menguncinya rapat-rapat.

Hari sudah gelap, mualim dan masinis mulai melepaskan ikatan layarnya satu per satu. Dengan perintah kapten kapal, jangkar kapal dinaikkan, dan sekarang, dengan lambat tapi pasti kapal melaju meninggalkan negeri. Istri dan anak-anak mereka terlihat harap-harap cemas. Sembari melambaikan tangan dari tepi dermaga, sebaris doa terucap dengan harapan keluarga mereka bisa pulang dengan selamat.
“Para penumpang segera berkumpul di geladak utama” terdengar suara kapten kapal dari pengeras suara yang tertempel di tiang-tiang kapal. Semua penumpang yang ada waktu itu segera bergegas berkumpul di tempatnya. “Seperti yang kalian lihat di haluan, di depan kita terdapat awan badai, terpaksa kita harus melewatinya… Dan juga, tidak perlu cemas, kapal ini sudah terbiasa menerjang ratusan badai” imbuh kapten kapal. Tidak lama kemudian, Guntur mulai terdengar, halilintar menghempas silih berganti, diikuti hujan deras disertai angin kencang, gelombang air laut pun mulai menunjukkan keganasannya. “Gulung layarnya!” teriak kapten kapal. Benar saja, kapal ini memang benar-benar kuat. Dihempas ombak dari sisi kanan atau kirinya pun masih bisa seimbang. Tapi, hal yang tidak diinginkan terjadi. Kemudi kapal tidak bisa digerakkan karena macet. Beberapa orang masinis terlihat kualahan memperbaikinya karena ukurannya yang begitu besar. Dengan tiba-tiba, dari kejauhan terlihat gugusan karang menjulang seolah menghampiri badan kapal. Tanpa pikir panjang, kapten kapal menyuruh semua penumpang segera pindah untuk membantu masinis mengangkat sumbu kemudi yang besar itu supaya bisa segera diperbaiki. Namun naas, sepertinya kapal tidak bisa diselamatkan lagi. Hempasan ombak yang begitu kuat memaksa badan kapal membentur batu karang. Untunglah, tidak ada penumpang yang terluka waktu itu. Terlihat lubang cukup besar menganga dibagian kiri kapal. Air laut mulai masuk perlahan-lahan, dan sepertinya cukup untuk menenggelamkan kapal dengan cepat.
Terdengar suara hentakan dari geladak bagian atas, “Kru kapal! Segera persiapkan perkakas kalian, kita akan membangun BILGA untuk mengeluarkan airnya! Banyak emas yang ada di kapal ini, kita harus selamatkan semuanya! Apa kata orang jika bayak emas yang hilang?! Tidak! Aku tidak akan membukakan gudang penyimpan lifeboat sebelum semua emas bisa diamankan”. Sungguh, keputusan yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa membuat bilga hanya dengan waktu sesingkat itu, sebelum kapal mulai sarat dengan air dan akhirnya tenggelam. Banyak kru kapal yang bergumam, bukankah keselamatan penumpang yang lebih utama?, tetapi, keputusan kapten kapal seperti halnya keputusan dewa, ya! Dewanya lautan, Poseidon. Seperti itulah perumpamaan ia. Ia lupa dengan apa yang harus dipertanggungjawabkan kelak. Ia lebih memilih mendengarkan nafsunya, nafsu untuk kaya, dari pada mendengarkan hati nuraninya. Singkat cerita, kapal tidak bisa diselamatkan, begitu pula penumpangnya, semuanya mati karena kedingingan di tengah samudera yang begitu luasnya. Keesokan harinya, istri dan anak-anak mereka begitu terpukul mendengar berita ini. Kesedihan meliputi seluruh negeri, entah, bagaimana kelanjutan peradaban di negeri ini.
Andaikan!, andaikan kapten kapal itu lebih memilih mendengarkan hati nuraninya, dan berpikir lebih bijak lagi, pastilah banyak nyawa bisa terselamatkan. Masalah emas? Hmm, segudang emas pun tidak pernah bisa membuat nyama satu orang manusia kembali lagi. Bijaklah dalam mengambil keputusan.
Muhammad Naufal Aziz
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s