KAMU APATIS!

aku-cuekBagi kebanyakan orang, sepertinya kata “apatis” pantas disandangkan kepada seseorang yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Entah ini kebetulan atau tidak, para mahasiswa baru juga sering mendengar kata apatis keluar dari mulut kakak tingkat ketika sesi evaluasi atau yang lainnya. Sungguh sangat disayangkan, kata yang tajam seperti itu dengan mudahnya dikeluarkan kepada orang yang mereka kira tidak peduli. Dari luar memang boleh dikatakan tidak peduli, tapi siapa yang mengetahui dibalik “ketidak peduliannya” itu justru memiliki kontribusi yang besar bagi orang disekitarnya. Saya rasa, kita tidak pantas menjustifikasi seseorang dengan sebutan apatis tanpa mengenal dia terlebih dahulu, apalagi sok tahu.

Di mata kakak-kakak tingkat, tersirat sebuah pesan dari kata apatis, bahwa seharusnya para maba bisa menginstrospeksi diri supaya tidak seperti yang kita ucapkan. Atau mungkin, buktikan kalau kata apatis tidak pantas kalian dapatkan. Tapi, di sisi mahasiswa baru, kata apatis benar-benar memiliki sugesti yang negatif. Apalagi jika terlintas sebuah pemikiran kalau semua usaha yang mereka lakukan sia-sia. Mereka seolah tidak setuju jika kata itu terlontar begitu saja tanpa tahu apa yang terjadi selama ini. Lantas, siapakah yang benar? Maba atau kating (kakak tingkat)?. Eitts.., jangan cepat menilai, alangkah baiknya kita baca dulu sebuah cerita yang ada di salah satu buku karangan Ary Ginanjar Agustian.
Pada hari itu sedang dilaksanakan rapat tertutup oleh petinggi-petinggi salah satu perusahaan ternama. Di ruang rapat bisa ada CEO perusahaan, kepala-kepala divisi, dan seorang moderator yang duduk di ujung meja rapat. Tokoh utamanya adalah kepala divisi marketing perusahaan, taruhlah namanya Fulan. Saat kepala divisi lain sedang menyampaikan laporannya kepada forum, tiba-tiba Fulan menguap. Seketika itu, pandangan mata semua orang tertuju pada Fulan. Moderator yang merasa terganggu dengan sikap Fulan secara langsung berkata, “Fulan, sikapmu sangat tidak pantas. Sekarang pemilik perusahaan ada di satu meja dengan kita. Tapi, kamu terlihat ‘tidak peduli’ dengan rapat sepenting ini.” Fulan sangat malu kepada dirinya sendiri. Tapi apa mau dikata, Fulan pun menceritakan kejadian sebenarnya, “Mohon maaf sebelumnya, saya sudah melakukan hal yang tidak pantas. Tapi alangkah baiknya saya menyampaikan alasan kenapa bisa seperti ini” Tandasnya. “Kemarin malam anak bungsu saya kecelakaan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sudah semalam saya terjaga karena harus menemani anak saya. Saya sadar betul begitu pentingnya rapat kali ini. Maka dari itu, pagi harinya saya memaksakan diri untuk datang rapat, walaupun mengantuk” tambahnya. Seketika itu semua orang terlihat bersimpati kepada Fulan, terutama moderator. Tidak hanya simpati, seharunya dia juga minta maaf kepada Fulan.
Dari kisah itu, dapat diambil beberapa hikmah. Pertama, seharusnya kita tidak berprasangka buruk kepada orang lain. Kata apatis tidak bisa diucapkan dengan semena-mena tanpa bukti yang konkret. Ingatkah, Rasulullah juga berpesan kepada kita untuk selalu berbaik sangka kepada orang lain. Kedua, seharusnya kita juga bisa meniru apa yang dilakukan Fulan. Saya yakin, Fulan pasti sangat marah ketika moderator mengatakan demikian, apalagi dihadapan CEO persahaan. Tapi, yang ada justru sebaliknya, dia menjelaskan dengan tenang dan sopan, mencoba mengambil hati orang yang ada di dalam ruangan, supaya bisa mengerti apa yang sudah terjadi pada dirinya semalam. Lantas, bagaimana dengan maba dan kating?. Menurut pandangan saya, seharusnya mereka “bertemu di tengah-tengah”. Para kating selaku orang yang mendidik mabanya perlu mengintrospeksi diri, supaya setiap kata yang keluar dari mulutnya memberikan kesan dan pesan yang baik. Selain itu, lebih bijak lagi dalam menilai orang juga perlu ditumbuhkan. Di sisi lain, para maba juga perlu menjelaskan dengan tenang dan sopan supaya kating juga mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tentunya, introspeksi diri perlu dilakukan semua orang.
Muhammad Naufal Aziz
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s